Budi (Seharusnya) Belajar iB


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:120%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-language:EN-US; font-style:italic;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Saya baru mengenal istilah Perbankan Syariah atau Islamic Banking (iB) ketika tahun terakhir di SMA. Saat ini usia saya 20 tahun, ini berarti masih sekitar tiga tahun yang lalu. Waktu yang terbilang terlambat ketika dihadapkan dengan kemajuan teknologi dan variasi produk perbankan yang katanya berkembang sejak tahun 1990-an.

Sebagai seorang Mahasiswa Pertanian semester V yang setiap harinya berkutat dengan tanaman dan serangkaian percobaan, tak banyak yang dapat saya tuliskan mengenai Perbankan Syariah. Jadi jangan harap Anda mendapatkan analisis tajam dengan deretan angka dan poin-poin dalam tulisan ini. Jika Anda menginginkan hal tersebut, sebaiknya Anda segera menutup web ini dan menghentikan membacanya.

Tulisan ini hanya berisi memoar seorang Siswa Kelas III SMA yang mendapatkan pelajaran pertamanya soal Perbankan Syariah dari seorang guru yang killer-nya minta ampun. Di tahun terakhir SMA, saya mendapatkan musibah yang dihindari semua siswa di Sekolah. Kelasku waktu itu mendapatkan Pak Udin sebagai Guru Pendidikan Agama Islam.

Tentu saja ini merupakan kabar buruk bagi kami sekelas. Bagaimana tidak, di tahun terakhir kami dengan seragam putih abu-abu, datang cobaan yang teramat berat dengan mendapatkan guru yang langkah kakinya pun sudah membuat jantung berdetak tak karuan. Tetapi saya tak hendak membahas bagaimana Bapak Udin menghukum kami dengan hafalan berlembar-lembar surah ketika datang terlambat. Saya juga tak akan menceritakan bagaimana beliau menjemur kami di bawah terik matahari ketika kedapatan duduk bercampur antara perempuan dan laki-laki. Saya hanya akan membahas pelajaran yang diberikan oleh beliau.

Walaupun killer-nya minta ampun, guru yang satu ini berjasa bagi kami dalam memperkenalkan konsep Perbankan Syariah sebagai konsep alternatif selain perbankan konvensional yang menjamur di Indonesia dan dunia saat ini. Walaupun saya mengikuti kelas setengah hati dan agak ngantuk, saya masih cukup fasih menuturkan perkataan beliau mengenai perbankan saat itu.

“Bank konvensional yang banyak berdiri sekarang ini memungut riba dalam sistem pinjam-meminjamnya,” katanya sambil membacakan hadits yang berarti: Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sejak saat itu pula saya paham kalau ada perbedaan mendasar antara Bank Syariah dan Bank konvensional.

Dalam prakteknya Bank konvensional memainkan peran sebagai lembaga perantara keuangan yang menyalurkan pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan, dananya diperoleh dengan menghimpun dana masyarakat. Proses pinjam-meminjam tersebut tentu tak lepas dari bunga atau riba yang sangat ditentang dalam Islam. Hal ini berbeda dengan Bank Syariah yang menerapkan sistem bagi hasil antara bank dan nasabahnya dengan merujuk pada hukum-hukum syariah.

Maka tidaklah heran ketika saat itu beliau langsung mempromosikan salah satu Bank Syariah dimana ia jadi nasabahnya (walaupun saat ini saya belum menjadi nasabah Bank Syariah manapun). Selain keamanan investasi lebih terjamin karena tidak terpengaruhi oleh fluktuasi suku bunga, Bank Syariah juga menyediakan berbagai produk yang tidak dapat disediakan oleh Bank Konvensional.

Beliau mencontohkan produk Mudharabah yang memberikan keleluasaan kepada pemilik modal untuk memercayakan uangnya kepada pengelola (mudharib) untuk dikelola di bidang yang ditunjuk oleh pemilik modal. Ada juga Raihan yang memungkinkan nasabah menggadaikan barang miliknya sebagai jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Tentu saja barang tersebut harus memenuhi syarat yang ditentukan oleh bank berdasarkan syariah. Selain itu masih banyak produk yang ditawarkan oleh Bank Syariah kepada konsumenya termasuk Wakalah (perwakilan), Qard (pinjaman uang) Hiwalah (alih piutang), dan produk lainnya.

Sehingga tidaklah heran jika beliau mengatakan bahwa Bank Syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang di Indonesia. Hal tersebut wajar mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga untuk menarik nasabah secara emosional akan lebih mudah (walaupun belum sepenuhnya terbukti). Namun terlepas dari itu semua, guru saya tersebut telah memberikan pelajaran yang akan terus terpatri mengenai Perbankan syariah.

Memperkenalkan iB Kepada Budi

Anda mungkin bertanya-tanya, siapakah Budi yang selalu saya sebut-sebut dalam judul tulisan ini. Budi adalah kawan lama kita yang sejak kelas I Sekolah Dasar (SD) (bahkan TK) sering disebut-sebut namanya. Budi selalu setia menemani anak-anak dalam mengenal huruf, merangkai kata sampai akhirnya mahir dalam membaca.

Ini Budi

Ini Ibu Budi

Ini Bapak Budi

Masih ingat dengan kalimat-kalimat di atas? Inilah kalimat paling populer yang digunakan oleh guru SD ketika hendak memberikan pelajaran membaca kepada anak didiknya. Lantas apa hubungan antara Budi dengan Perbankan Syariah?

Mengenang memoar saya ketika mendapatkan pelajaran mengenai Perbankan Syariah di Bangku Kelas III SMA, membuat saya berpikir. Mengapa hal yang begitu penting seperti ini baru saya dapatkan ketika saya hendak melepaskan seragam putih abu-abu. Sehingga melalui tulisan ini saya hendak mengatakan bahwa alangkah baiknya ketika pelajaran penting seperti Perbankan Syariah ini diperkenalkan lebih dini kepada anak-anak, ketika pikiran mereka masih terbuka akan hal-hal yang baru. Sama halnya ketika memperkenalkan Budi dan keluarganya.

Namun tentu saja dengan sebuah catatan. Metode yang digunakan harus attraktif dan menyenangkan bagi siswa yang memang pada dasarnya masih senang untuk bermain. Jangan membuat suasana tegang dan komunikasi satu arah seperti yang dilakukan guruku ketika itu (sekali kali maaf pak).

Akan sangat bermanfaat ketika topik mengenai Perbankan Syariah dapat diperkenalkan sejak dini kepada siswa-siswi, agar mereka mengetahui lebih awal mengenai pentingnya Bank Syariah dalam pembangunan ekonomi. Bentuk-bentuk permainan, nyanyian, out-bond akan sangat berperan dalam hal ini. Permainan kreatif akan lebih ampuh untuk mencantolkan ilmu tentang Perbankan Syariah kepada anak-anak ini. Sehingga nantinya mereka tidak hanya mengenal si Budi beserta keluarganya, namun juga Bank Syariah dan produk-produknya. Amin

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

welcome to me….!!!

hari ini sekitar 60an sivitas kademika unhas yang terdiri dari mahasiswa dan pegawai ikut berpartisipasi dalam pesta blogger 2009.termasuk saya, udah punya alamt blog mudah-mudah ini bisa jadi langkah awal dalam memupuk kemampuan menulisku. Buat para blogger yang udah  duluan eksis, saya ucapkan salam kenal…!!!

di hari-hari selanjutnya tulisan-tulisanku akan mewarnai hari-harimu..mu..mu…!!!cayou…!!!

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Hello world!

Selamat datang di dagdigdug.com. Ini merupakan post pertama Anda. Sunting atau hapus artikel ini, dan selanjutnya kami ucapkan selamat ngeblog!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar